Selasa, 31 Juli 2012

Prosedur Perawatan Luka Kering


MAKALAH
PROSEDUR PENGATURAN POSISI DAN
PROSEDUR PERAWATAN LUKA KERING / POST OPERASI
Disusun untuk memenuhi tugas persyaratan Ujian OSCA matakuliah Ketrampilan Dasar Keperawatan
Dosen : Rita Dwi Hartanti, S.Kep,Ns.


Kelas 1C
Disusun oleh :
LULUK ALFAINI FIKRIYATI  ( 10.0545.S )



PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN  PEKAJANGAN PEKALONGAN TAHUN AJARAN 2010/2011


PENGESAHAN

Makalah yang berujudul PROSEDUR PENGATURAN POSISI DAN PROSEDUR PERAWATAN LUKA KERING / POST OPERASI telah di konsultasikan untuk memenuhi tugas persyaratan  mengikuti ujian OSCA mata kuliah Ketrampilan Dasar Keperawatan.




Pekajangan, 28 Juni 2011

Mengetahui



Rita Dwi Hartanti, S.Kep,Ns











BAB I
PENDAHULUAN

Pasien Pasca maupun post operasi membutuhkan penanganan khusus agar proses penyembuhan berlangsung dengan cepat. Perawat hendaknya memiliki ketrampilan yang memadai untuk melakukan proses keperawatan dan membuat asuhan keperawatan.
( Sugeng Jitowiyono, 2010 )
Intervensi keperawatan preoperative klien yang mengalami pembedahan. Penyuluhan klien didesain untuk membantu klien melewati periode preoperatifdan mengurangi resiko komplikasi klien selama periode ini. Penyuluhan ini penting pada pembedahan rawat jalan dan pemulangan awal dari rumah sakit setelah pembedahan. Perawat harus menggunakan kontak preoperative dengan klien secara luas dalam upaya keberhasilan penyuluhan klien tentang perawatan pasca operasi maupun poast operasi. Klien yang telah mendapatkan informasi dan disaipkan lebih mungkin untuk berpartisipasi penuh dalam perawatan.
( Perry,Peterson,Potter, 2003 )
Prosedur merawat luka merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk membantu proses percepatan penyembuhan luka. Dan pembalutan merupakan tindakan keperawatan untuk melindungi luka dengan drainase tertutup.
( Aziz Alimul Hidayat, 2002 )



BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN

Ketakutan yang berhubungan dengan pengalaman pembedahan, kehilangan control, dan hasil tidak dapat diperkirakan, ansieta yang berhubungan dengan prosedur pra operasi ( izin, pembedahan, pemeriksaan diagnostic, kateter foley, pembatasan diet dan cairan, obat-obatan, persiapan kulit, ruang tunggu untuk keluarga ) prosedur pasca operasi ( diposisi ruang pemulihan, unit perawatan intensif, obat untuk nyeri, latihan batuk- membalikkan tubuh-menggerakkan tungkai, pemasangan selang/drein, puasa/pembatasan diet, tirah baring ) dan prosedur post operasi ( membuka balutan luka, observasi, membersihkan luka, mengobati luka dan mengganti balutan luka ).
(  Lynda Juall, 2003 )

Balutan kering melindungi luka dengan drainase minimal dari kontaminasi mikroorganisme. Balutan dapat hanya berupa bantalan kasa yang tidak melekat kejaringan luka dan menyebabkan iritasi yang sangat kecil. Atau dapat menjadi bantalan telfa yang juga tidak melekat pada insisi atau lubang luka tetapi memungkinkan drainase melalui permukaan yang tidak melekat dibawah kasa lembut.
( Perry.Peterson.Potter, 2003 )


B.     PRINSIP TINDAKAN

Selama insisi atau luka tetap teerbuka, pemasangan balutan kering memerlukan teknik steril.
( Perry Potter, 1995 )




C.     TUJUAN

Adapun beberapa tujuan dari prosedur perawatan luka kering, sebagai berikut :
1.      Menurunkan nyeri
2.      Meningkatkan penyembuhan luka
3.      Memperbaiki hasil kosmetik
4.      Pemeliharaan lingkungan lembab
5.      Perlindungan dari kontaminan luar
6.      Perlindungan dari cidera lebih lanjut
7.      Pencegahan penyebaran mikroorganisme
8.      Peningkatan kenyamanan klien
9.      Pengendalian perdarahan
(  Perry.Peterson.Potter. 2003 )
10.  Pasien mendapatka terapi fisik dengan mendemonstrasikan penggunaan alat bantu yang nyaman setelah post operasi
11.  Pasien mampu melakukan relaksasi
12.  Pasien tidak demam dan nyeri pasien teratas.
( T.M. Marrelli, 2000 )

D.    KONSEP TEORI

Balutan yang ideal harus mudah digunakan, dapat mengikuti kontur tubuh, tahan lama tetspi fleksibel, efektif-biaya, dapat mengabsorpsi atau menampung eksudat, mudah dilepaskan tanpa merusak permukaan yang sedang proses penyembuhan, dan dapat diterima dalam hal penampilan.
( Perry,Peterson,Potter, 2003 )

E.     INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI

Dilakukan pada pasien yang mengalami luka insisi atau luka tetap terbuka.luka bersih ataupun luka tak terkontaminasi.
( Perry Potter, 1995 )
Teknik pembalutan dilakukan bila klien mengalami perawatan luka secara tertutup.
( Aziz Alimul Hidayat, 2002 )
F.      PERSIAPAN ALAT

1.      Sarung tangan steril
2.      Kasa/ balutan steril
3.      Gunting steril
4.      Plester
(  Aziz Alimul Hidayat, 2002 )
5.      Larutan pembersih yang diresepkan oleh dokter
6.      Larutan garam faal atau air
7.      Pengikat atau balutan sesuai kebutuhan
8.      Kantung tahan air untuk sampah
9.      Balutan kasa ekstra dan surpigad atau bantalan ABD
10.  Selimut mandi
11.  Pengangkat perekat (tidak menjadi keharusan )
12.  Alat pengukur ( tidak menjadi keharusan )
( Perry,Potter, 1995 )

G.    RASIONALISASI

No.
Langkah-Langkah
Rasional
1.
Jelaskah prosedur pada klien dengan menggambarkan langkah-langkah perawatan luka.
Menghilangkan ansietas klien dan meningkatkan pemahaman proses penyembuhan.
2.
Susun semua peralatan yang diperlukan dimeja tempat tidur ( jangan membuka peralatan ).
Mencegah kesempatan merusak teknik steril dengan kelalaian tak disengaja pada peralatan yang diperlukan.
3.
Ambil kantung sekali pakai dan buat lipatan diatasnya. Letakan kantung dalam jangkauan area kerja anda.
Mencegah kontaminasi tak disengaja pada bagian atas luar permukaan kantung. Jangan menyeberangi area steril untuk membuang balutan kotor.
4.
Tutup ruangan atau tirai tempat tidur atau atur partisi disekitar tempat tidur. Tutup semua jendela yang terbuka.
Memberikan klien privasi dan mengurangi udara yang dapat mentransmisikan mikroorganisme.
5.
Bantu klien pada posisi nyaman dan selimut pasien mandi hanya untuk memanjankan tempat luka. Instruksikan klien untuk tidak menyentuh area luka peralatan steril.
Gerakan tiba-tiba dari klien selama penggantian balutan dapat menyebabkan kontaminasi luka atau peralatan. Penutupan memberikan jalan masuk pada luka dan meminimalkan pemanjaan yang tidak perlu.
6.
Cuci tangan secara menyeluruh.
Menghilangkan mikroorganisme yang tinggal dipermukaan kulit dan mengurangi transmisi pathogen pada jaringan yang terpajan.
7.
Gunakan sarung tangan bersih sekali pakai dan lepaskan plester, ikatan, atau balutan.
Sarung tangan mencegah transmisi organism dari balutan kotor pada tangan anda.
8.
Lepaskan plaster dengan melepaskan ujung dan menariknya dengan perlahan, sejajar pada kulit dan mengarah pada balutan. ( bila masih terdapat plaster dikulit, ini dapat dibersihkan dengan aseton ).
Mengurangi tegangan pada jahitan atau tepi luka.
9.
Dengan sarung tangan atau forsep, angkat balutan, pertahankan permukaan kotor jauh dari penglihatan klien.
CATATAN : bila terdapat drain, angkat setiap balutan stiap kali.
Penampilan drainase dapat mengganggu klien scara emosional. Pengangkatan balutan dengan hati-hati denga balutan mencegah penarikan tak disengaja pada drain.
10.
Bila balutan lengket pada luka, lepaskan dengan memberikan larutan steri atau air.
Mencegah kerusakan permukaan epidermal.
11.
Observasi karakter dan jumlah drainase pada balutan.
Memberikan perkiraan hilangnya drainase dan pengkajian kondisi luka.
12.
Buang balutan kotor pada kantong sampah, hindari kontaminasi permukaan luar kantung. Lepaskan sarung tangan dengan menarik bagiab dalam keluar. Buang di tempat yang tepat.
Prosedur mengurangi transmisi mikroorganisme untuk orang lain.
13.
Buka nampan balutan steril atau secara individual tertutup bahan steril. Tempatkan pada meja tempat tidur atau disamping pasien. Balutan, gunting dan forsep harus tetap pad nampan steril atau dapat ditempatkan pada penutup steril yang terbuka digunakan sebagai area steril. Buka botol atau bungkusan larutan anti septic dan tuangkan kedalam basin steril atau diatas kasa steril.
Balutan steril dan perapatan tetap steril saat dalam permukaan steril. Persiapan semua bahan mencegah merusak teknik selama mengganti balutan actual.


14.
Bila penutup atau kemasan kasa steril menjadi basah akibat larutan antiseptic, ulangi persiapan bahan.
Cairan bergerak melalui bahan dengan aksi kapiler. Mikroorganisme menjalar dari lingkungan tidak steril diatas meja atau linen tempat tidur menembus kemasan balutan kebalutan itu sendiri.
15.
Kenakan sarung tangan steril.

       
Memungkinkan anda memegang balutan steril, instrument dan larutan tanpa menyebabkan kontaminasi.
16.
Inspeksi luka. Perhatikan kondisinya, letak drain, integritas jahitan atau penutupan kulit, dan karakter drainase. ( palpasi luka, bila perlu, dengan bagian tangan non-dominan yang tidak akan menyentuh bahan steril ).
Menentuka status penyembuhan luka. ( kontak denga permukaan kulit atau drainase mengkontaminasi sarung tangan ).
      
17.
Bersihkan luka dengan larutan antiseptic yang diresepkan atau dilarutkan garam faal. Pegang kasa yang dibasahi dalam larutan dengan forsep. Gunakan kasa terpisah untuk setiap usapan membersihkan. Bersihkan dari area yang kurang terkontaminasi kearea terkontaminasi. Gerakan dalam tekanan progresif menjauh dari insisi atau tepi luka.
Penggunaan forsep untuk mencegah kontaminasi jari yang memakai sarung tangan. Arah tekanan pembersihan mencegah introduksi organism kedalam luka.
18.
Gunakan kasa baru untuk mengerika luka atau insisi. Usap dengan cara seperti digambarkan pada langkah 17.
Mengurangi kelembapan pada tempat luka, yang akhirnya dapat menjadi tempat tumbuh mikroorganisme.
19.
Berikan salep antiseptic bila dipesankan, gunakan tekinik seperti pada pembersihan, jangan dioleskan diatas tempat drainase.
Pengolesan yang diarahkan langsung pada balutan atau drainase dapat menghambat drainase.
20.
Pasang balutan steril kering pada insisi atau letak luka.
·         Pasang setiap balutan setiap kali.

·         Pasang kasa jarang (4x4) atau Telfa sebagai lapisan kontak.
·         Bila terpasang drain, ambil gunting dan potong kasa 4x4 kotak untuk dipaskan disekitarnya.
·         Pasang kasa lapisan kedua sebagai lapisan absorben.
·         Pasang surgipad yang lebih tebal atau bantalan ABD ( garis biru ditengah bantalan menandai permukaan luar ).


Mencegah pemasangan balutan besar yang dapt mengganggu gerakna klien, dan memastikan penutupan luka keseluruhan.













Meningkatkan absorpsi tepat terhadap drainase.

Balutan sekitar drain mengamankan letak drain dan mengabsorpi drainase.


Melindungi luka dari masuknya mikroorganisme.


21.
Gunakan plaster diata balutan atau amankan dengan ikatan Montgomery, balutan atau penikat.
Memberikan dukungan pada luka dan menjamin penutupan lengkap dengan pemajanan minimal pada mikroorganisme.
22.
Lepaskan sarung tangan dan buang pada tempat yang telah disediakan.
Mengurangi transmisi mikroorganisme.
23.
Buang semua bahan dan bantu klien kembali pada posisi nyaman.
Lingkungan yang bersih menigkatkan kenyamanan klien.
24.
Cuci tangan.
Mengurangi transmisi mikroorganisme.
25.
Catat pada catatan perawat observasi luka, balutan dan drainase. Dokumentasikan penggantian balutan, termasuk pernyataan respon klien.
Dokumentasiyang akurat dan tepat waktu memberitahukan personel adanya perubahan pada kondisi luka dan status klien.
( Perry Potter, Hal : 1995 )

H.    HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN PERAWAT

Saat melepaskan atau memasang balutan , perhatikan untuk tidak mengubah posisi atau menarik drain. Bila luka kering dan utuh, penyembuhan mungkin optimal dengan memanjankannya pada udara. Hubungi dokter untuk pesanan penghentian penggantian balutan luka.
Alat pelindung mata harus dipakai bila terdapat risiko kontaminasi ocular, seperti cipratan dari luka.
( Perry Potter, 1995)



BAB III
PENUTUP

Pasien membutuhkan penanganan khusus agar proses penyembuhan berlangsung dengan cepat. Dan perawat hendaknya memiliki ketrampilan yang memadai untuk melakukan proses perawatan dan membuat asuhan keperawatan.
( Sugeng Jitowiyono, 2010 )
Pembalutan merupakan tindakan keperawatan untuk melindungi luka dengan drainase tertutup, kontaminase mikroorganisme yang dapat dilakukan dengan menggunakan kain kasa steril yang tidak melekat pada jaringan luka. Teknik pembalutan ini dilakukan bila klien mengalami perawatan luka secara tertutup.
( Aziz Alimul Hidayat, 2002 )


















DAFTAR PUSTAKA

Juall, Lynda, Buku Saku Diagnosis Keperawatan,EGC, Jakarta : 2003
Potter, Patricia A, Buku Saku Ketrampilan dan Prosedur Dasr, EGC, Jakarta : 2003
Hidayat, Aziz Alimul, Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia, EGC, Jakarta : 2002
Perry, Anne Griffin, Buku Saku Ketrampilan Dan Prosedur Dasar, EGC, Jakarta :1995
Suparmi, Yulia, Panduan Praktik Keperawatan, Citra Aji Parama, Yogyakarta : 2008



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar