Kamis, 03 Mei 2012

Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Hipopituitarisme


MAKALAH
SISTEM ENDOKRIN
“ HIPOPITUITARISME “
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah sistem endokrin
Dosen pengampu : Nuniek Nizmah Fajriah, SKP.

Disusun Oleh :
Kelompok II
1.       Siti Kurniasih                             ( 08.0326.S )
2.       Iis Sugiarti                                   ( 10.0535.S )
3.       Jajang Nur Jaman                     ( 10.0538.S )
4.       Kholisa Agustina                      ( 10.0540.S )
5.       Lina Ayu Pramatasari             ( 10.0542.S )
6.       Luluk Alfaini Fikriyati             ( 10.0545.S )
7.       Ma’rifatul Laili                          ( 10.0547.S )
PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Kelenjar hipofisis kadang disebut kelenjar penguasa karena hipofisis mengkoordinasikan berbagai fungsi dari kelenjar endokrin lainnya. Beberapa hormone hipofisis memiliki efek langsung, beberapa lainnya secara sederhana mengendalikan kecepatan pelepasan hormonnya sendiri melalui mekanisme umpan balik, oleh organ lainnya, dimana kadar hormone endokrin lainnya dalam darah memberikan sinyal kepada hipofisis untuk memperlambat atau mempercepat pelepasan hormonnya. Jenisnya ada Kelenjar hipofisis anterior dan posterior.
Hipofungsi kelenjar hipofisis ( Hipopituitarisme ) dapat terjadi akibat penyakit pada kelenjar hipofisis sendiri atau pada hipotalamus ; namun demikian, akibat kedua keadaan ini pada hakikatnya sama. Hipopituitarisme dapat terjadi akibat kerusakan lobus anterior kelenjar hipofisis. Panhipopituitarisme ( penyakit simmond ) merupakan keadaan tidak adanya seleruh sekresi hipofisis dan penyakit ini jarang dijumpai. Microsisi hipofisis pasca partus ( syndrome Sheehan ) merupakan penyebab lain kegagalan hipofisis anterior yang jarang. Keadaan ini lebih cenderung terjadi pada wanita yang mengalami kehilangan darah, hipovolemia dan hipotensi pada saat melahirkan.
(Smeltzer, Suzanne.C. 2001. )
B.     Tujuan Penulisan

1.      Tujuan umum
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas yang diberikan untuk memenuhi tugas mata kuliah sistem endokrin.
2.      Tujuan khusus
Diharapkan setelah membaca makalah ini mahasiswa dapat:
a.       Mengetahui pengertian penyakit hipopituitarisme
b.      Mengetahui klasifikasi dari hipopituitarisme
c.       Mengetahui penyebab terjadinya hipopituitarisme
d.      Mengetahui tanda dan gejala penyakit hipopituitarisme
e.       Mengetahui dan memahami focus pengkajian pada penyakit hipopituitarisme
f.       Mengetahui dan memahami focus perencanaan pada penyakit hipopituitarisme
g.      Memahami contoh kasus penyakit hipopituitarisme dan mengetahui asuhan keperawatan yang harus diberikan pada penderita hipopituitarisme

C.    Manfaat Penulisan

Dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca, sehingga dapat menetahui cara hidup sehat, menambah pengetahuan dan pendalaman, penelitian tentang pasien dengan gangguan gagal jantung.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi
Hipopituitarisme adalah keadaan yang timbul sebagai akibat hipofungsi hipofisis. Hipopituitarisme merupakan defisiensi hormon tiroid, adrenal, gonadal dan hormon pertumbuhan akibat penyakit hipofisis. Pada setiap pasien dengan defisiensi hormonal ini, kemungkinan adanya defisiensi lain harus dicari. Kadang-kadang timbul akut berupa apopleksi hipofisis dimana terdapat infark hemoragik pad atumor hipofisis, biasanya disertai  nyeri disertai kepala berat mendadak dan seringkali bersama dengan defek lapanng pandang. Hipopituitarisme memilki prevalensi 30/100.000. (Gledle Jonathan, 2005:143)
Hipopituitarisme adalah suatu gambaran penyakit akibat insufisiensi kelenjar hipofisis, terutama bagian anterior. Gangguan ini menyebabkan munculnya masalah dan manifestasi klinis yang berkaitan dengandefisiensi hormon-hormon yang dihasilkannya.

B.     Etiologi
Sindrom ini disebabkan oleh kelainan destrutif pada kelenjar hipofisis. Penyebab yang sering ialah :
1.      Sheehan’s postpartum pituitary necrosis
2.      Adenoma khoromofob
3.      Craniopharyngioma
4.      Kelainan-kelainan lain yang mungkin juga menimbulkan hipopitutarisme ialah radang, terutama tuberculosis, sarcoidosis. Kadang-kadang penyebab dari pada destruksi hipofisis tidak jelas dan hanya tampak sebagai fibrosis saja.
(dr. Sutisna Himawan, 1994)
Hipopiutuitarisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar hipofisis atau hipotalamus. Penyebab menyangkut :
1.      Infeksi atau peradangan oleh : jamur,bakteri piogenik.
2.      Penyakit autoimun (Hipofisis limfoid autoimun).
3.      Tumor, misalnya dari sejenis sel penghasil hormon yang dapat mengganggu pembentukan salah satu atau semau hormon lain.
4.       Umpan balik dari organ sasaran yang mengalamai malfungsi. Misalnya, akan terjadi penurunan sekresi TSH dari hipofisis apabila kelenjar tiroid yang sakit mengeluarkan HT dalam kadar yang berlebihan.
5.      Nekrotik hipoksik (kematian akibat kekurangan O2) hipofisis atau oksigenasi dapat merusak sebagian atausemua sel penghasil hormon. Salah satunya sindrom sheecan, yang terjadi setelah perdarahan maternal.

C.    Klasifikasi
1.      Hypophyseal Cachexia ( Penyakit Simmonds ):
a.       Dapat terjadi pada semua usia, lebih sering pada usia dewasa.
b.      Lebih sering pada wanita dengan perbandingan 2 : 1
c.       Penderita dapat hidup bertahun-tahun dengan penyakitnya, kadang-kadang sampai 30-40 tahun.
Gejala-gejala klinik biasanya disebabkan oleh insufiensi adrenal, thyroid atau gonad, yang terjadi sekunder akibat hipopituitarisme. Kombinasi kelenjar yang mengalami insufiensi itu bisa berbagai macam ; yang paling sering ialah kombinasi hipothyroidisme dan hipoadrenalisme.
2.      Hypophyseal Dwarfism ( Jenis Lorain-Levi ):
a.       Pada anak yang sedang tumbuh
b.      Terjadi dwarfisme yang simetrik.
Penyebab yang paling sering ialah ; craniopharyngioma. Kadang-kadang juga disebabkan juga oleh : nekrosis iskhemik, kista, atau radang.
3.      Sindrom Froehlich ( Dystrophia Adiposogenitalis ):
a.       Obesitas jenis eunuchoid.
b.      Pertumbuhan yang tidak sempurna daripada gonad dan genital.
c.       Cirri-ciri sex sekunder tidak ada, disfungsi seksual, dan kulit yang halus.
d.      Terjadi pada usia muda.
e.       Dapat menyerang baik laki-laki maupu wanita dengan perbandingan yang sama.
(dr. Sutisna Himawan, 1994)

D.    Manifestasi Klinis
Pada anak-anak, terjadi gangguan pertumbuhan somatis akibat defisiensi pelepasan GH. Dwarfisme hipofisis (kerdil) merupakan konsekuensi dari defisiensi tersebut. Ketika anak-anak tersebut mencapai pubertas, maka tanda-tanda seksual sekunder dan genitalia eksterna gagal berkembang. Selain itu sering pula ditemukan berbagai derajat insifisiensi adrenal dan hipitiroidisme, mereka mungkin akan mengalami kesulitan di sekolah dan memperlihatkan perkembangan intelektual yang lamban, kulit biasanya pucat karena tidak adanya MSH.
Pada orang dewasa, kehilangan fungsi hipofisis sering mengikuti kronologis seperti defisiensi GH, hipogonadisme, hipotiroidisme, dan insufisiensi adrena. Karena orang dewasa telah menyelesaikan pertumbuhan somatisnya, maka tinggi tubuh pasien dewasa dengan hipotuitarisme adalah normal.
Adapun tanda dan gejalanya yang mungkin ditemukan yaitu :
1.      Terjadinya hipogonadisme.
2.      Penurunan libido, impotensi, progresif pertumbuhan rambut dan bulu ditubuh, jenggot, berkurangnya perkembangan otot pada pria.
3.      Pada wanita, berhentinya siklus menstruasi atau aminorea yang merupakan tanda awal dari kegagalan hipofisis. Kemudian di ikiti atrofi payudara dan genetalia eksterna.
(Price Syvia A, 2005:1216-1217)

Sakit kepala dan gangguan penglihatan atau adanya tanda-tanda tekanan intara kranial yang meningkat. Mungkin merupakan gambaran penyakit bila tumor menyita ruangan yang cukup besar.
1.      Gambaran dari produksi hormon pertumbuhan yang berlebih termasuk akromegali (tangan dan kaki besar demikian pula lidah dan rahang), berkeringat banyak, hipertensi dan artralgia (nyeri sendi).
2.      Hiperprolaktinemia : amenore atau oligomenore galaktore (30%), infertilitas pada wanita, impotensi pada pria.
3.      Sindrom Chusing : obesitas sentral, hirsutisme, striae, hipertensi, diabetesmilitus, osteoporosis.
4.      Defisiensi hormon pertumbuhan : (Growt Hormon = GH) gangguan pertumbuhan pada anak-anak.
5.      Defisiensi Gonadotropin : impotensi, libido menurun, rambut tubuh rontok pada pria, amenore pada wanita.
6.      Defisiensi TSH : rasa lelah, konstipasi, kulit kering gambaran laboratorium dari hipertiroidism.
7.      Defisiensi Kortikotropin : malaise, anoreksia, rasa lelah yang nyata, pucat, gejala – gejala yang sangat hebat selama menderita penyakit sistemik ringan biasa, gambaran laboratorium dari penurunan fungsi adrenal.
8.      Defisiensi Vasopresin : poliuria, polidipsia,dehidrasi, tidak mampu memekatkan urin.

E.     Pemeriksaan Diagnostik
1.      Pemeriksaan Laboratorik ditemukan Pengeluaran 17 ketosteroid dan 17 hidraksi kortikosteroid dalam urin menurun, BMR menurun.
2.      Pemeriksaan Radiologik / Rontgenologis ditemukan Sella Tursika.
a.       Foto polos kepala.
b.      Poliomografi berbagai arah (multi direksional).
c.       Pneumoensefalografi.
d.      CTScan.
e.       Angiografi serebral.
3.      Pemeriksaan Lapang Pandang.
a.       Adanya kelainan lapangan pandang mencurigakan.
b.      Adanya tumor hipofisis yang menekankiasma optik.
4.      Pemeriksaan Diagnostik.
a.       Pemeriksaan kartisol, T3 dan T4, serta esterogen atau testosteron.
b.      Pemeriksaan ACTH, TSH, dan LH.
c.       Tes provokasi dengan menggunakan stimulan atau supresan hormon, dan dengan melakukan pengukuran efeknya terhadap kadar hormon serum.
d.      Tes provokatif.
F.     Penatalaksanaan
Pengobatan hipopituitarisme mencakup penggantian hormon-hormon yang kurang. GH manusia, hormon yang hanya efektif pada manusia, dihasilkan dari tehnik rekombinasi asam deoksiribonukleat(DNA), dapat digunakan untuk mengobati pasien dengan defesiensi GH dan hanya dapat dikerjakan oleh dokter spesialis.
GH manusia jika diberikan pada anak-anak yang menderita dwarfisme hipofisis, dapat menyebabkan peningkatan tinggi badan yang berlebihan. GH manusia rekombinan juga dapat digunakan sebagai hormon pengganti pada pasien dewasa dengan panhipopituitarisme. Hormon hipofisis hanya dapat diberikan dengan cara disuntikan.
Sehingga, terapi harian pengganti hormon kelenjar target akibat defesiensi hipofisis untuk jangka waktu yang lama, hanya diberikan sebagai alternatif.
( Price Syvia A, 20051217)

G.    Asuhan Keperawatan Fokus
1.      PENGKAJIAN
Pengkajian keperawatan pada klien dengan kelainan ini antara lain mencakup:
a.       Riwayat penyakit masa lalu
     Adakah penyakit atau trauma pada kepala yang pernah diderita klien, serta
riwayat radiasi pada kepala.
b.      Sejak kapan keluhan diarasakan
     Dampak defisiensi GH mulai tampak pada masa balita sedang defisiensi gonadotropin nyata pada masa praremaja.
c.       Apakah keluhan terjadi sejak lahir.Tubuh kecil dan kerdil sejak lahirterdapat pada klien kretinisme.
d.      Kaji TTV dasar untukperbandingan dengan hasil pemeriksaan yang akan datang.
e.       Berat dan tinggi badan saat lahir atau kaji pertumbuhan fisik klien. Bandingkan perumbuhan anak dengan standar.
f.        Keluhan utama klien:
-          Pertumbuhan lambat.
-          Ukuran otot dan tulang kecil.
-          Tanda – tanda seks sekunder tidak berkembang, tidak ada rambut pubis dan rambut axila, payudara tidak tumbuh, penis tidak tumbuh, tidak mendapat haid, dan lain – lain.
-          Interfilitas.
-          Impotensi.
-          Libido menurun.
-          Nyeri senggama pada wanita.
g.      Pemeriksaan fisik
-          Amati bentuk dan ukuran tubuh, ukur BB dan TB, amati bentuk dan ukuran buah dada, pertumbuhan rambut axila dan pubis pada klien pria amati pula pertumbuhan rambut wajah (jenggot dan kumis).
-          Palpasi kulit, pada wanita biasanya menjadi kering dan kasar. Tergantung pada penyebab hipopituitary,perlu juga dikaji data lain sebagai data penyerta seperti bila penyebabnya adalah tumor maka perlu dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi serebrum danfungsi nervus kranialis dan adanya keluhan nyeri kepala.
h.      Kaji pula dampak perubahan fisik terhadap kemapuan klien dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
i.        Data penunjang dari hasil pemeriksaan diagnostik seperti :
-       Foto kranium untuk melihat pelebaran dan atau erosi sella tursika.
-       Pemeriksaan serta serum darah : LH dan FSH GH, androgen, prolaktin, testosteron, kartisol, aldosteron, test stimulating yang mencakup uji toleransi insulin dan stimulasi tiroid releasing hormone.

2.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
     Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien dengan hipopituitarisme adalah:
a.       Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan struktur tubuh dan fungsi tubuh akibat defisiensi gonadotropin dan defisiensi hormon pertumbuhan.
b.      Koping individu tak efektif berhubungan dengan kronisitas kondisi penyakit.
c.       Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh.
d.      Gangguan persepsi sensori (penglihatan) berhubungan dengan gangguan transmisi impuls sebagai akibat penekanan tumor pada nervus optikus.
e.       Ansietas berhubungan dengan ancaman atau perubahan status kesehatan.
f.       Defisit perawatan diri berhubungan dengan menurunnya kekuatan otot.
g.      Resiko gangguan integritas kulit (kekeringan) berhubungan dengan menurunnya kadar hormonal.
h.      Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan Melemahnya kemampuan fisik dan ketergantungan sekunder akibat gangguan hormonal.

3.      INTERVENSI
     Secara umum tujuan yang diharapakan dari perawatan klien dengan hipofungsi hipofisis adalah :
a.       Klien memiliki kembali citra tubuh yang positif dan harga diri yang tinggi.
b.      Klien dapat berpartisipasi aktif dalam program pengobatan.
c.       Klien dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari.
d.      Klien bebas dari rasa cemas.
e.       Klien terhindar dari komplikasi.

1.      Dx : Gangguan Citra Tubuh Berhubungan dengan Perubahan Struktur Tubuh dan Fungsi Tubuh.
Tujuan :  Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien memiliki kembali citra tubuh yang positif dan harga diri yang tinggi.
Kriteria Hasil :
a.       Melakukan kegiatan penerimaan, penampilan misalnya: kerapian, pakaian, postur tubuh, pola makan, kehadiran diri.
b.      Penampilan dalam perawatan diri / tanggung jawab peran.
Intervensi :
a.       Dorong individu untuk mengekspresikan perasaan.
R:  Kita dapat mengkaji sejauh mana tingkat penolakan terhadap kenyataan akan kondisi fisik tubuh, untuk mempercepat teknik penyembuhan / penanganan.
b.      Dorong individu untuk bertanya mengenai masalah, penanganan, perkembangan, prognosa kesehatan.
R: Dengan mengetahui proses perjalanan penyakit tersebut maka klien secara bertahap akan mulai menerima kenyataan.
c.       Tingkatkan komunikasi terbuka, menghindari kritik / penilaian tentang perilaku klien.
R: Membantu untuk tiap individu untuk memahami area dalam program sehingga salah pemahaman tidak terjadi.
d.      Berikan kesempatan berbagi rasa dengan individu yang mengalami pengalaman yang sama.
R: Sebagai problem solving
e.       Bantu staf mewaspadai dan menerima perasaan sendiri bila merawat pasien lain.
R/ Perilaku menilai, perasaan jijik, marah dan aneh dapat mempengaruhi perawatan/ditransmisikan pada klien, menguatkan harga negatif / gambaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar